Orang nomor satu di Bandung itu menuliskan namanya dan nama istrinya 'Emil+Lia" di gembok berukuran kecil berwarna kuning. Di pinggir tulisannya dikelilingi gambar hati. Sementara di bagian belakangnya ditulis tanggal pernikahannya, "7/12/96".
Setelah mengantungkan dan mengunci gembok, Pria yang akrab disapa Emil tersebut melemparkan kunci ke Kolam Patung Badak yang ada di depan instalasi itu.
"Biar cintanya abadi tidak ada yang berani membuka. Sok weh berani mah nyelam, nyari-nyari," seloroh Emil di Balai Kota Bandung, Jalan Wasukancana, Jumat (19/9/2014).
Gembok Cinta kini menjadi salah satu ornamen taman di Balai Kota Bandung. Instalasi yang terkenal di Kota Paris tersebut menginspirasi Emil untuk membuat hal serupa di Bandung.
"Ini ada dekorasi tempat buat masang gembok Cinta, seperti di Eropa," ujar Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat ditemui di Taman Balai Kota Bandung, Jumat (19/9/2014).
Pria yang akrab disapa Emil tersebut sudah mempromosikan ornamen baru di Balai Kota itu di akun instagramnya. Emil mengabadikan Gembok Cinta itu saat malam hari. Dalam fotonya Gembok Cinta tersebut memantulkan cahaya sehingga terlihat lebih cantik.
"Jadi bagi yang sudah berpasangan, silakan. Ini khusus untuk yang berpasangan. Kan ada yang punya gembok tapi enggak ada pasangan," guraunya.
Tradisi gembok cinta ini dijadikan simbol cinta abadi. Ini adalah sebuah kebiasaan unik yang banyak bermunculan di Eropa dan Asia sejak tahun 2000-an. Pasangan menuliskan nama mereka (bisa juga hanya berupa inisial) di sebuah gembok, mengunci dan memasangnya, lalu membuang kuncinya. Katanya, cinta mereka akan abadi.
Pantauan detikcom, saat ini belum ada warga Bandung yang menggantungkan gemboknya di Gembok Cinta tersebut. Jadi, siapa yang akan menggantungkan gembok pertama di sana?
"Ini mewakili semangat baru bahwa pasar tradisional di Bandung mulai sekarang harus keren, kreatif, dan multifungsi," ujar Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil saat meresmikan peletakan batu pertama Pasar Sae Sarijadi, Rabu (17/9/2014).
Menurutnya multifungsi artinya dari pagi hingga malam pasar selalu ramai. "Pasar ini ada tempat nongkrongnya, food courtnya, kos-kosan, dan ada futsal. Sehingga nilai ekonominya bisa berputar jauh dari sekadar jualan barang-barang saja," jelasnya.
Emil menargetkan pasar Sae Sarijadi sudah bisa digunakan tahun depan. Pasar ini menampung 194 pedagang.
"Selama lima tahun kepemimpinan kami, kita akan buat minimal selusin pasar tradional baru. Saya ingin tarik pedagang di jalanan dan orang-orang yang biasa belanja di supermarket agar kembali belanja di pasar tradisional," tandas Emil.
Sementara itu di tempat yang sama, Dirut PD Pasar Bermartabat Rinal Siswadi mengatakan desain pasar dibuat oleh wali kota. "Desain bangunan pasar ini menonjolkan sirkulasi udara. Konsepnya tropis. Tanpa AC tapi tetap segar dan sejuk," jelasnya.
Rinal menjelaskan arti Pasar Sae. "Sae itu dari bahasa Sunda yang artinya Bagus. Ada kepanjangan Sae yaitu Sehat Aman Endah. Kalau Sae sesuai fungsi pelayanan publik artinya Santun Akuntabel Efesien," tuturnya.
Pasar Sarijadi ini didirikan pada tahun 1985 di atas tanah seluas 3.538,34 m2, dengan status tanah adalah hibah dari perum perumnas dan dibiayai dari dana inpres sebesar Rp 77 juta.
Pada saat itu, pasar dibangun dengan 110 ruang dagang, yang terdiri dari 90 kios dan 20 meja, namun dalam perjalanannya, kondisi pasar Sarijadi hanya diisi oleh 19 pedagang yang aktif, sebagian besar ruang dagang dibiarkan kosong dan tidak digunakan, sehingga kondisi pasar menjadi rusak dan tidak repersentatif. Akhirnya masyarakat sarijadi dan sekitarnya lebih memilih pasar swasta sari rahayu yang berlokasi di daerah cibogo
"Desain bangunan pasar ini menonjolkan sirkulasi udara. Desainnya yang buat Wali Kota Bandung, konsepnya tropis. Tanpa AC tapi tetap segar dan sejuk," ujar Dirut PD Pasar Bermartabat Rinal Siswadi di sela-sela peletakan batu pertama, Rabu (17/9/2014).
Pasar akan di bangun di atas lahan sekitar 3.500 meter persegi dengan luas bangunan 5.200 meter persegi. Bangunan terdiri dari tiga lantai. Ada 194 kios untuk pedagang, di mana 42 pedagang basahan dan 152 komoditi kering.
"Sebagai fasilitas tambahan, pasar Sarijadi ini akan dilengkapi dengan sarana olah raga yaitu lapangan futsal, area foodcourt, dan hunian kos-kosan sebanyak 16 kamar," jelas Rinal.
Nilai investasi pembangunan Pasar Sae Sarijadi sebesar Rp 19,5 miliar, dengan proyeksi pendapatan per tahun berkisar Rp 2,5 miliar. "Apabila proyeksi kenaikan pendapatan rata rata sebesar 10 persen per tahun, maka kami optimis akan Break Event Point (BEP) pada tahun ke 7," tandas Rinal.
Sebelumnya Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyatakan pasar Sae Sarijadi ini mewakili semangat baru bahwa pasar tradisional di Bandung mulai sekarang harus keren, kreatif, dan multifungsi.
"Kenapa kita sediakan berbagai fasilitas seperti foodcourt, arena futsal dan lainnya, agar kehidupannya tidak hanya di pagi hari tapi sampai malam hari jadi ekonominya terus berputar," jelas wali kota.
Pasar Sarijadi ini didirikan pada tahun 1985 di atas tanah seluas 3.538,34 m2, dengan status tanah adalah hibah dari perum perumnas dan dibiayai dari dana inpres sebesar Rp 77 juta.
Pada saat itu, pasar dibangun dengan 110 ruang dagang, yang terdiri dari 90 kios dan 20 meja, namun dalam perjalanannya, kondisi pasar Sarijadi hanya diisi oleh 19 pedagang yang aktif, sebagian besar ruang dagang dibiarkan kosong dan tidak digunakan, sehingga kondisi pasar menjadi rusak dan tidak repersentatif. Akhirnya masyarakat sarijadi dan sekitarnya lebih memilih pasar swasta sari rahayu yang berlokasi di daerah Cibogo
No comments:
Post a Comment