Thursday, August 7, 2014

Siswi SMP Keluhkan Aturan Kemendikbud Soal Penggunaan Baju Encim Tiap Jumat

Jakarta - Kemendikbud melalui Dinas Pendidikan DKI Jakarta memberikan surat edaran penggunaan baju sadariyah oleh siswa-siswi SMA setiap hari Jumat. Namun aturan itu dirasa berat para siswi. Buat mereka kebijakan tersebut merepotkan.

"Cukup keberatan kalau harus pakai baju encim, karena buat jalan atau lari ribet," kata Fani, siswi kelas 7 SMP 216, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (7/8/2014).

Hal senada juga dikatakan Risma. Menurutnya penggunaan baju encim saat sekolah dapat mengurangi konsentrasinya saat belajar.

"Itu kan ribet, salah-salah malah jadi sibuk ngurusin baju," kata Risma, siswi kelas 8.

Di sisi lain, ia sepakat bahwa penggunaan baju sadariyah dan baju encim adalah salah satu upaya melestarikan budaya. Hanya saja menurutnya penggunaan pakaian khas Betawi tersebut tidak perlu dilakukan rutin setiap minggu.

"Biasanya kita pakai baju encim kalau lagi kondangan, atau ngisi acara," katanya.

SMP 216 sendiri mengaku belum mensosialisasikan edaran Disdik tersebut kepada siswa. Sosialisasi akan segera dilakukan dalam waktu dekat.

"Pastinya kapan saya belum tahu," kata Kepala TU SMP 216, Slamet.

Keluhan Para Siswi Soal Rencana Penggunaan Baju Encim: Ribet dan Mahal


Jakarta - Tak hanya siswi SMP, imbauan penggunaan baju encim setiap hari Jumat juga dikeluhkan siswi-siswi SMA. Berbagai alasan diutarakan, dari keluhan ribet, aneh hingga mahal.

Salah satu siswi kelas 12 SMA 68, Zaza mengatakan, penggunaan baju encim saat sekolah cukup merepotkan. Pasalnya, mereka harus berdandan lebih sebelum berangkat ke sekolah.

"Sebenarnya agak kurang sreg, karena roknya ribet, sepatunya juga bakal ribet. Masak kita pakai sepatu begini (kets), kan aneh," katanya di SMA 68, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (7/8/2014).

Zaza mengaku lebih senang mengenakan pakaian muslim saat Hari Jumat. Meskipun pada hari lain ia tidak mengenakan jilbab, namun siswi jurusan IPA tersebut tak keberatan jika harus berpakaian lengan panjang saat Hari Jumat.

"Rasanya aneh juga. Biasanya pakai kebaya encim cuma di acara resmi. Sekarang harus tiap minggu," ucap Zaza.

Alasan lain diungkapkan oleh Fira (16). Alasan utama Fira keberatan dengan penggunaan baju sadariyah karena harganya yang menurutnya cukup mahal. 

"Harganya Rp 150 ribuan. Itu lumayan mahal," keluhnya.

Fira juga mengaku tak memiliki kebaya di rumah. Menurutnya, terakhir kali ia memakai kebaya adalah saat wisuda SMP.

Terlebih lagi jika berangkat sekolah Fira diantar oleh ayahnya dengan menggunakan sepeda motor. Sehingga menurutnya akan repot jika mengenakan baju encim dengan dibonceng motor.

‎"Kalau bisa aturannya dipertimbangkan lagi jangan tiap minggu. Tapi di acara wisuda tahunan aja kayak biasanya," katanya seraya tersenyum.

No comments:

Post a Comment