Merdeka.com - Kelapa Dinas Pendidikan DKI Jakarta Lasro Marbun mengajukan pengunduran diri dari jabatannya. Padahal, Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakilnya, Basuki T Purnama merasa puas atas kinerja Lasro.
Pengamat pendidikan dan juga mantan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Dr Bedjo Sujanto menilai mundurnya Lasro dari jabatannya menunjukkan kegagalan seorang pemimpin. "Dia (Lasro) gagal mengkoordinir fungsi seorang atasan terhadap bawahannya. Sebenarnya asal bisa koordinir bawahannya, selesai itu," kata Bedjo, saat ditemui wartawan, Jumat (8/8).
Bedjo prihatin atas mundurnya Lasro. Alasan Lasro mundur karena anak buah menunjukkan Lasro tak mampu mengambil hati bawahannya.
"Saya cukup prihatin mendengar kabar ini. Seharusnya beliau dapat memahami bagaimana kondisi bawahannya yang akan melaksanakan tugas-tugas operasional dari kebijakan pimpinan. Mestinya pemimpin itu harus dekat dengan bawahan. Saya tidak mengerti kenapa pak Lasro tidak bisa dekat," jelas dia.
Dia berharap pengganti Lasro pilihan Jokowi Ahok mampu mengayomi anak buahnya. "Saya harap pengganti Lasro nanti harus seorang manager profesional. Figur yang baik dan bisa menjadi leader. Agar pendidikan di ibukota ini berjalan lebih maksimal, dapat menciptakan siswa berprestasi yang akan menjadi tonggak-tonggak bangsa," tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Lasro Marbun membenarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya saat ini. Lasro bakal mengajukan surat pengunduran diri kepada Gubernur DKI Jakarta pada Agustus ini.
"Pimpinan sudah bicara, pimpinan kan ada sumbernya (ingin mundur). Target saya memang seluruh model pembaharuan ini akan digenapi secara tatanan itu Agustus. Jadi seluruh model (termasuk mundur, Red) akan (dilakukan) Agustus," ujar Lasro di Balai Kota, Jakarta, Kamis (7/8).
Selama lebih kurang lima bulan menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Lasro telah memangkas anggaran pendidikan sebesar Rp 2,4 triliun. Kemudian, ia juga berhasil merampingkan banyaknya jabatan di Dinas Pendidikan, seperti penghapusan jabatan pengawas sekolah tingkat kecamatan dan Pusat Pelatihan Kejuruan.
Merdeka.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan banyak hal yang dibahas dalam pertemuannya dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Salah satunya pembahasan mengenai tuan rumah Asian Games 2018 mendatang dan pembahasan mengenai sanksi para PNS di Balai Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) KIR di Muara Angke Kedaung, Jakarta Utara.
"Ngobrol-ngobrol soal Asian Games saja. Terus soal kita punya organisasi Ortala yang baru. Terus kita mau kasih sanksi orang KIR, dinas perumahan. Tidak bisa lagi kan orang-orang yang melanggar kita kasih jabatan. Kalau kamu sudah salah ya harus distafkan. Sama soal KIR, 42 orang mau diapain nih? Tinggal pilih, kalau kamu terbuktikorupsi, anda kalau mau baik-baik mundur masih dapat pensiun. Kalau tidak, kami proses pemecatannya. Anda out. Intinya pakJokowi sih pengen Jakarta jadi model lah," ujar Ahok di Balai Kota, Jakarta, Kamis (7/8).
Selain itu, Ahok juga diminta untuk menerapkan sistem perbankan di semua lini yang ada di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Pasalnya, kata Ahok, Jokowi yakin hanya sistem bank yang bisa mengontrol orang.
"Jadi bisa ketahuan siapa yang beli siapa yang jual. Kalau nggak ada sistem bank, susah. PR saya itu, Jakarta jadi model. Kayak KJP itu harus betul-betul bersifat beasiswa sampai orang lulus. Bukan cuma jumlah nilai uang tertentu. Terus kesehatan mesti jelas. Termasuk DPRD gimana," kata Ahok.
Mantan bupati Belitung Timur ini menambahkan presiden terpilih Jokowi juga memberikan semangat kepada Pemprov DKI dalam upaya pembenahan serta perbaikan di lingkungan Pemprov DKI. Sehingga, Jakarta bakal menjadi role model yang akan diterapkan oleh daerah-daerah lain.
"Beliau pengen semua idenya di Jakarta itu, kalau Jakarta sudah sempurna kan bisa di-copy di daerah lain. Kalau belum kan orang masih tanya-tanya. Terus soal inflasi penting buat beliau kan. Semua daerah harus bersama-sama menahan inflasi," pungkas dia.
No comments:
Post a Comment