Tuesday, December 1, 2015

Beredar rekaman lengkap Setnov & Freeport, banyak fakta mengejutkan

Transkip lengkap pembicaraan Ketua DPR Setya Novanto yang disebut mencatut nama Presiden Joko Widodo beredar. Dalam percakapan terlibat juga pengusaha Reza Chalid, dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin.

"Kalau saya dipanggil saya akan datang dan menyerahkan apa yang saya punya. Saya punya rekaman lengkap," kata Menteri ESDM Sudirman Said di Gedung DPR, Selasa (1/12).

Tetapi Sudirman tidak merinci berapa lama durasi rekaman tersebut. Dia juga tidak membeberkan detail isi percakapan yang membawa-bawa nama Jokowi, Wapres JK dan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan.

Sudirman mengaku hanya melaporkan rekaman ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) yang bersinggungan langsung dengannya di sektor energi. Tetapi Sudirman bersedia membeberkan rekaman yang dimilikinya jika MKD meminta.

"Saya melaporkan poin-poin yang relevan dengan urusan saya di sektor energi dan sumber daya mineral. Jadi yang saya berikan statement-statement yang berkaitan dengan laporan saya. Tapi proses selanjutnya membutuhkan keterangan tambahan, ya kita akan ikuti," tuturnya.

Sebelumnya, Ketua DPR Setya Novanto membantah sebagai orang yang ada dalam rekaman percakapan yang dilaporkan Menteri ESDM, Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Dia bahkan menuding ada orang yang mengedit rekaman itu untuk menjatuhkan dirinya.

"Saya tidak pernah akui rekaman itu. Belum tentu suara saya, bisa saja diedit tujuan menyudutkan saya," kata Setnov di gedung DPR, Jakarta, Jumat (20/11).

Sementara itu Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan enggan mempersoalkan namanya menjadi jelek karena disebut dalam rekaman itu. Purnawirawan jenderal TNI ini juga membantah terlibat dalam perpanjang kontrak PT Freeport.

"Saya tidak merasa tercemar. Biasa-biasa saja menurut saya. Saya tidak salah," kata Luhut saat jumpa pers di Kantornya, Jakarta, Kamis (19/11).

Dia mengatakan, bahwa dirinya tidak ada kerja sama bisnis dengan siapa pun. Dirinya juga sudah berjanji dengan istrinya tidak akan merusak bangsa sendiri.

"Saya tidak ada bisnis satu peser pun dengan siapapun. Itu janji saya dengan diri saya dan istri saya. Selama saya jadi pejabat negara, saya tidak akan melacurkan profesionalitas (jabatan) saya," kata dia.

Saat ini beredar luas rekaman lengkap percakapan tersebut di kalangan jurnalis. Bahkan sudah ada yang merangkum secara detail. Berikut isi rekaman tersebut:

- Sewaktu membicarakan pernikahan putra Jokowi, Riza menyebut begini: "Bukan tanggal 12, kata Lucas. Pak Luhut pesen musti ketemu dia".

- Sewaktu Riza menawarkan ke Setya Novanto untuk ikut terbang naik pesawat pribadi Riza, Setya sempat ragu bisa menemui Luhut di Solo dengan bilang begini: Pak Luhut kan Pernyataan ini langsung dipotong Riza dengan menyatakan kedatangannya ke Solo hanya sebentar. Riza bilang gini: "Gua sebentar, gua salaman, gua ketemu Pak Luhut terus gua kabur ke airport. Habis mau ngapain lagi lama-lama, yang penting buat kita nongol, salaman, ketemu Pak luhut udah"

- Sewaktu diundang silaturrahmi pimpinan lembaga tinggi negara, Setya Novanto mengaku sewaktu membicarakan rencana divestasi Freeport, Luhut minta untuk dirundingkan. "Pak Luhut cuma bilang: kita runding"". Kepada Presiden Jokowi, Novanto mengaku sudah membicakan soal divestasi dengan Luhut. "Oh iya sudah Pak, Pak Luhut yang banyak memberikan pendapat"

- Sewaktu acara silaturrahmi itu, Setya Novanto mengaku diminta presiden untuk bicara dengan Luhu. Novanto dalam rekaman mengaku diminta menghadap ke Luhut. "Pak Ketua sudah bicara belum Pak Luhut".

-Sewaktu membicarakan siasat untuk membangun usaha patungan PLTA yang akan memasok keebutuhan listrik ke Freeport, Riza menyebut kalau PLTA itu nanti yang memiliki saham Luhut. Maroef yang bertanya siapa yang memiliki saham perusahaan PLTA tersbut. Riza menjawa: "Ada nominenya, punya Pak Luhut".

- Sewaktu Maroef minta jaminan 1 Juli 2015 harus ada sinyal perpanjangan ijin untuk Freeport bisa diberikan Indonesia, Riza men begini: Habis itu Jumat ke Pak Luhut. Harus ditugasin itu dia. Kalau bisa tuntas dan minggu depan sudah bisa settlement".

- Sewaktu Maroef Freeport meragukan ijin perpanjangan dapat diberikan, Setya Novanto berusaha meyakinkan kalau pengalamannya beberapa kali kerjasama dengan pemerintah selalu goal. Novanto bilang begini: "Tapi kalau pengalaman kita, artinya saya dengan Pak Luhut, pengalaman-pengalaman dengan presiden, itu rata-rata 99 % itu goal semua Pak. Ada keputusan-keputusan penting kayak Arab itu, bermain kita. Makanya saya tahu. Makanya Bung Riza begitu tahu Darmo, dimaintaince, dibiayai terus itu Darmo habis-habisan supaya belok. Pinter itu". 

Riza pun mempertegas pernyataan Setya dengan menimpali kalau hubungan Luhut denga Presiden Jokowi sangat dekat. Riza bilang gini: Pak, Pak. Hubungan Pak Luhut itu dekat sekali dengan Pak Jokowi. Kalau kasih sign beliau keluar, kasih sign, eh beliau kayaknya begini gini, rahasia ya. Ngerti nggak. Paling nggak Pak, kalau saya bilang confirm on, kalau meleset saya habis Pak".

- Sewaktu bicara soal divestasi saham freeport kepada Indonesia sebanyak 30 % (9,3% diantara sudah direalisasikan, berarti masih ada sekitar 20%), Setya dan Riza berbalas pantun dengan menyatakan kalau Luhut sudah bertemu dengan Jim Bob di Amerika Serikat. Riza kemudian berinisiatif menawarkan formula pembagian saham 20% tersebut. Riza bilang begini: "Kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau enggak ribut".

Pernyataan Riza ini lalu ditimpali Setya dengan bilang: "Jadi kalau pembicaraannya Pak Luhut di San Diago, dengan Jim Bob, empat tahun lalu. Itu, dari 30 persen itu, dia memang di sini 10 %. 10 persen dibayar pakai deviden. Jadi dipinjemin tapi dibayar tunai pakai deviden. Caranya gitu, sehingga menggangu konstalasi ini. Begitu dengar adanya istana cawe-cawe, presiden nggak suka, Pak Luhut ganti dikerjain. Kan begitu. Sekarang kita tahu kuncinya. Kuncinya kan begitu begitu lho hahahaha. Kita kan ingin beliau berhasil. Di sana juga senang kan gitu. Strateginya gitu lho". Ruang miting lalu diisi tawa terbahak-bahak.

-Setya selalu menyebut Riza adalah pengatur strategi, sedangkan kuncinya ada di tangan Setya sendiri dan Luhut. Setya berkisah pengalaman kerjasama dengan Luhut dalam meredakan ketegangan saat pemilihan Kapolri yang kita tahu Budi Gunawan sangat diinginkan Megawati. Hal ini menyebabkan seluruh fraksi DPR mendukung Budi Gunawan. Namun Jokowi pada waktu itu menolaknya. Ketegangan tersebut akhirnya ditengahi dengan menyerahkan posisi Budi Gunawan kepada Kapolri terpilih. Setya Novanto menyebut ia bersama Luhut merancang draf pernyataan presiden yang isinya 100% sama dengan yang disusun Luhut. 

Untuk meyakinkan Maroef, Novanto bilang pengalaman ini harus dipakai. Novanto bilang begini: "Maksudnya saya pengalaman itu. Jadi kita harus pakai akal. Kita harus pakai ini. Kuncinya, kan ada kuncinya. Kuncinya kan ada di Pak Luhut, ada saya. Nanti lempar-lemparan. Ada dia strateginya (mengarahkan pandangan ke Riza Chalid). Mereka akan menggocek rencana ini.

-Sewaktu bicara soal ketegangan antara KMP dan KIH, Riza mengumpulkan petinggi KMP. Ada Prabowo, Ical, Hatta, Anis Matta dan lain-lainnya Luhut juga diundang. Luhut pun datang bersama timnya yang telah dipersiapkan kursi di bagian depan. Riza bilang gini: "Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah. Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus berdamai membangun negara. Jangan ikut (pemerintah). Presiden sama wapres enggak boleh diganggu. Saya bilang, kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yang ada di sana, Ini temen-temen dan kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Akhirnya sepakat pak malam itu, oke kita dukung Jokowi JK supaya sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yang enggak mendukung Jokowi itu PDIP. KMP enggak, semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara aman kita punyajalan. Tapi kalau ribut terus di palemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya ancur".

-Riza bercerita kalau kepada Marciano untuk tidak akan berkunjung lagi ke rumah Marciano karena takut ketahuan, sampai keadaan politik tenang, Setya Novanto menyeletuk begini: "Udah tahu lah, kan Pak Luhut lapor semua pertemuan itu kalau Bung Riza semua yang ngatur". Pernyataan Novanto ini buru-buru ditimpali Riza pentingnya hubungan harmonis KMP dengan pemerintah. Riza bilang gini: "Maksudnya biar harmonis, harmonis rukun. Kalau Pak Luhut kan sahabat lama. Ya udah kita duduk Pak Luhut.. Pak Luhut gak percaya. Belum cukup sama gue. Udahlah bisalah. Gua yang atur, gua jamin. Wah seneng banget, Pak Luhut ke Pak Jokowi. Nih si bos yang urus katanya. Dia mau bawa ke istana, Riza tolak. Wah kalau saya ke istana, ada yang motret. Tambah pusing kepala saya. Susah ini Pak, tukang gosip""

- Hubungan Setya Novanto, Riza Chalid dengan Luhut sangat dekat. Setya dan Riza saling tektok untuk segera bertemu dengan Luhut. Ini dialog keduanya

MS: Terima kasih waktunya. Kita tunggu anunya aja kepastian gimana, kelanjutannya
MR: Saya bicara Pak luhut, kira-kira apa. Terus oke, kita ketemu.
SN: Harus itu pak
MR: Saya akan bilang Pak Luhut
SN: Harus cepet. Karena kasihan beliau, Pak Luhut dikasih tanggung jawab. Kasih tanggung jawab share holder. Gimana caranya sukses, harus cari akal kan gitu.

No comments:

Post a Comment