Monday, January 2, 2017

Ditanya soal Relawannya yang Memasang Stiker di Rumah Warga, Ini Kata Agus

Calon gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono tak tahu menahu soal adanya relawan yang memasang stiker dirinya dan Sylviana Murni di rumah warga bernama Tetty Pataresia (43), Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur.

"Saya belum tahu soal masalah itu," ujar Agus dengan singkat di kawasan Petukangan Utara, Jakarta Selatan, Senin (2/1/2017).
Relawan pemasang stiker Agus-Sylvi itu diprotes Tetty, warga Balekambang, Kramatjati, Jakarta Timur, melalui akun Facebook-nya. Relawan itu ditegur karena mengaku perwakilan dari kelurahan, dan bukan mengaku sebagai relawan.
Tetty menulis pengalamannya didatangi orang yang mengaku petugas kelurahan yang mendata daftar pemilih dan berujung pemasangan stiker Agus-Sylvi. Belakangan, petugas kelurahan itu diketahui merupakan relawan Agus-Sylvi.
Tulisan Tetty di Facebook-nya itu menjadi viral karena dia protes dengan adanya pendataan dan pemasangan stiker tersebut. Tetty menyebut, dia juga didatangi orang dari Bawaslu bersama pemasang stiker Agus-Sylvi itu.
"Kata dia (Bawaslu), 'Itu postingan ibu udah sampe ribuan komentar. Besok-besok kalau kayak gitu, mending dari awal kalau enggak setuju langsung saja dicopot, atau bilang tidak mau secara tegas, enggak usah pakai nge-share'," ujar Tetty, Minggu (1/1/2017). (Baca: Kekhawatiran Warga akan Pendataan oleh Relawan Agus-Sylvi)
Tetty menyatakan, dia mengunggah cerita tersebut ke media sosial agar sampai ke Bawaslu dan ditindaklanjuti. Sementara itu, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta Mimah Susanti mengatakan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jakarta Timur menemukan hal yang berpotensi jadi pelanggaran dalam pemasangan stiker pasangan cagub-cawagub, Agus HarimurtiYudhoyono-Sylviana Murni.
Mimah menyebut dugaan pelanggaran tersebut ditemukan karena relawan yang memasang stiker itu adalah petugas jumantik di kelurahan setempat.
"Dia mengaku petugas kelurahan. Aparat kelurahan itu bisa dikenakan sanksi kalau melakukan keberpihakan," ujar Mimah kepada Kompas.com, Senin (2/1/2017).

Banyak Stiker Agus-Sylvi dan Anies-Sandi Dipasang di Tiang Listrik

Pada masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017, semua pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur memanfaatkan berbagai bahan kampanye, salah satunya stiker.

Penggunaan stiker sebagai bahan kampanye diatur dalam Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2016 tentang Kampanye Pilkada. Dalam Pasal 26 ayat 1 PKPU itu disebut stiker yang boleh digunakan maksimal berukuran 10 x 5 cm. Kemudian, dalam Pasal 26 ayat 2 diatur ketentuan pemasangan stiker.
Stiker pasangan calon tidak boleh ditempel di tempat ibadah, rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan, gedung atau fasilitas milik pemerintah, lembaga pendidikan, jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, dan/atau taman dan pepohonan.
Salah satu sarana dan prasarana publik itu yakni tiang listrik.
Ketua Bawaslu DKI Jakarta Mimah Susanti mengatakan, pemasangan stiker di tiang listrik tidak diperbolehkan.
"Iya, tiang listrik tempat yang dilarang (dipasangi stiker)," ujar Mimah melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Senin (2/1/2017). (Baca: Panwaslu Peringatkan Relawan Pemasang Stiker Agus-Sylvi yang Diprotes Warga)
Namun, banyak ditemukan stiker pasangan Agus HarimurtiYudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Unoyang dipasang di tiang listrik. Salah satunya di Kawasan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Stiker Agus-Sylvi itu berlatar putih dengan tulisan "AGUS SYLVI #JAKARTA UNTUK RAKYAT" dan bergambar bendera merah putih di sisi kirinya.
Sementara stiker Anies-Sandi menampilkan wajah keduanya dengan latar putih, lengkap dengan tulisan Anies Sandi, maju bersama, dan slogan "MAJU KOTANYA BAHAGIA WARGANYA". Ada pula stiker lain yang dilengkapi tulisan "Assalamualaikum" beraksara arab.
Nursita SariStiker pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang dipasang di tiang listrik di Jalan Menteng Atas Selatan, Kelurahan Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Foto diambil Senin (2/1/2017).
Dengan adanya stiker yang dipasang di tempat yang dilarang tersebut, Mimah menyebut pengawas pemilu akan mengidentifikasinya dan meminta tim pasangan cagub-cawaguh untuk mencabutnya.
"Diidentifikasi dulu titik-titiknya. Karena udah terpasang, kita surati tim kampanye untuk dicopot 1x24 jam. Kalo enggak direspons, baru kita bersihkan bareng Satpol PP," kata dia. (Baca:Stiker Ahok-Djarot Terpasang di Rumah Dinas Ketua DPRD, Bawaslu Panggil Prasetio)
Mimah menuturkan, masyarakat bisa turut serta melaporkan jika melihat ada stiker pasangan cagub-cawagub yang dipasang tidak sesuai aturan. Informasi itu bisa disampaikan kepada Bawaslu DKI melalui berbagai medium.
"Kalau ada laporan masyarakat sebaiknya disertai lokasi kejadian agar bisa ditindaklanjuti langsung. Informasi bisa kita dapatkan bukan hanya dari panwas, tapi dari relawan, dari medsos, masyarakat, atau temuan panwas bisa aja dari wartawan media," ucap Mimah.

Saat Agus Dibisiki Jubirnya Sebelum Menjawab Pertanyaan Wartawan

 Calon gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono, sempat dibisiki oleh juru bicaranya, Rico Rustombi, sebelum menjawab pertanyaan dari para wartawan di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (2/1/2017).

Adapun pertanyaan yang dilontarkan wartawan adalah mengenai kondisi alat transportasi publik di Jakarta. Para pewarta ingin mengetahui pandangan dari Agus mengenai kondisi alat transportasi publik yang ada di Jakarta.
"Tidak semuanya jelek," ujar Rico sambil membisikkan sesuatu ke kuping Agus. Setelah dibisiki, Agus pun menjawab pertanyaan tersebut. (Baca: Tim Sukses Agus-Sylvi: Kasus Makar Bernuansa Politik)
Menurut dia, ada beberapa transportasi publik yang secara kualitas perlu ditingkatkan, dan ada pula beberapa yang sudah baik.
"Ya tidak semuanya buruk, tetapi tentunya harus meyakini masih terjadi kebakaran bus dan kapal dan yang lain-lain juga masih ada masalah-masalah," ucap Agus.
Pasangan dari Sylviana Murni ini menyebut ada beberapa masalah transportasi yang harus dibenahi. Masalah tersebut mengenai seringnya ketidaktepatan waktu kedatangan dari moda transportasi publik serta aspek keamanan dan kenyamanan bagi para penumpang.
"Itu semua harus jadi koreksi bersama. Saya katakan tidak semua seperti itu. Yang bagus kita pelihara, kita tingkatkan, dan yang belum kita perbaiki dan kita koreksi bersama-sama," kata Agus.

Transportasi Kapal di Kali Adem Disarankan Tiru Transjakarta

Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) mengatakan perlu perubahan pengelolaan transportasi penyebrangan di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara.

Perubahan ini menyusul insiden terbakarnya Kapal Motor (KM) penumpang Zahro Express pada Minggu (1/1/2017).
Ketua DTKJ Elleng Tangkudung menyarankan perubahan pengelolaan transportasi itu bisa seperti PT Transjakarta.
"Pemprov DKI Jakarta bertanggungjawab langsung dan menjadikan perusahaan-perusahaan dalam pengelolaan satu BUMD," kata Ellen saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Senin (2/1/2017).
Artinya, perusahaan-perusahaan penyedia jasa transportasi kapal penyebrangan menjadi operator dan bergabung dalam satu BUMD.
Tarif untuk operator diberlakukan seperti PT Transjakarta, dengan perbedaan rupiah per mil. Pengelolaan itu dinilai jauh lebih baik lantaran bisa memonitor langsung kelaikan dan operasional kapal sebagai transportasi publik.
"Bila ada operator kapal tak baik, maka bisa dikasih sanksi langsung oleh Pemprov DKI Jakarta," kata dia.
Pengelolaan terpadu itu juga bisa menyesuaikan standar kelaikan dari kapal. Ada pun saat ini pengelolaan kapal masih bersifat mandiri sehingga tak bisa termonitor dengan baik.

Seperti diketahui, kapal penumpang Zahro Express terbakar saat mengangkut ratusan penumpang menuju Pulau Tidung, Minggu (1/1/2017).
Kapal tersebut sering melayani perjalanan wisatawan ke area sekitar Kepulauan Seribu. Para penumpang adalah wisatawan yang ingin berlibur pada awal 2017 ini.
Namun, dalam perjalanan ke Pulau Tidung, kapal terbakar di tengah laut.
Berdasarkan data yang dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 23 orang meninggal dunia.
Sebagian penumpang lainnya selamat, luka-luka dan ada juga penumpang yang masih hilang.

Pengawasan Transportasi ke Kepulauan Seribu Dinilai Masih Kurang

 Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) menilai pengawasan Syahbandar Kali Adem terhadap kapal-kapal untuk transportasi umum ke Kepulauan Seribu masih kurang.

Penilaian ini menanggapi insiden terbakarnya Kapal Motor (KM) Zahro Express yang hendak bertolak ke Pulau Tidung dari Kali Adem, Minggu (1/1/2017).
Ketua DTKJ Ellen Tangkudung mengatakan bahwa Syahbandar kurang mengawasi secara ketat soal manifes penumpang dan kelaikan kapal.
Padahal, Syahbandar menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran memiliki wewenang untuk memberikan Surat Izin Berlayar berdasarkan pemeriksaan secara keseluruhan dua komponen di atas.
"Pengawasan di pelabuhan Jakarta di depan mata masih Kurang, apalagi pelabuhan jauh di Indonesia," kata Ellen saat dihubungiKompas.com di Jakarta, Senin (2/1/2017).
Berdasarkan lembar surat izin berlayar kapal Zahro Express yang didapat Kompas.com, tercatat memang hanya ada 100 orang dalam daftar manifes.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada sekitar 251 penumpang yang naik ke kapal tersebut sebelum terbakar.
Namun, berbagai pihak belum bisa memastikan data pasti penumpang karena banyak dari mereka tidak tercatat pada daftar manifes di awal perjalanan.
Ellen menambahkan bercermin dari kasus KM Zahro Express, maka perlu perhatian khusus terkait operasional kapal-kapal pada masa liburan. Pasalnya, akan terjadi lonjakan jumlah penumpang pada masa liburan.
Ellen sendiri mengakui bahwa pernah mendapat keluhan soal buruknya manifes penumpang di Kali Adem sekitar enam hingga tujuh bulan lalu pada saat masa liburan.
"Saya enggak mau bilang kebiasaan (kurang pengawasan), harus ada penanggungjawab untuk melihat dengan benar, berapa orang pergi dan kelaikan mesin," kata Ellen.
Kapal penumpang Zahro Express terbakar saat mengangkut ratusan penumpang menuju Pulau Tidung, Minggu (1/1/2017).
Kapal tersebut sering melayani perjalanan wisatawan ke area sekitar Kepulauan Seribu. Para penumpang adalah wisatawan yang ingin berlibur pada awal 2017 ini.
Namun, dalam perjalanan ke Pulau Tidung, kapal terbakar di tengah laut.
Berdasarkan data yang dilansir Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 23 orang meninggal dunia.
Sebagian penumpang lainnya selamat, luka-luka dan ada juga penumpang yang masih hilang.

Pengorbanan Eli, Berikan Pelampung pada Anaknya Saat Kebakaran Zahro Express

Pelampung yang didapat Eli Aliyah dari atas kapal motor Zahro Express diberikan pada anaknya.

Eli rela menyerahkan pelampung satu-satunya yang ia dapat, tanpa memikirkan keselamatan jiwanya, demi keselamatan anaknya. 

Eli kemudian tenggelam di perairan Muara Angke, setelah berpegangan tangan dengan sang anak. Warga Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, itu menumpang kapal Zahro untuk berlibur bersama anaknya ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu.

"Eli pergi dadakan tadi pagi," kata saudara Eli, Hermawati kepadaTribunnewsBogor.com di rumah duka.

Menurut Hermawati, Eli berangkat bersama anak semata wayangnya, Elsa Maritza, sekitar pukul 06.00 WIB. Adapun suami Eli, Haris Hartanto, tidak ikut karena ada acara lain.

Eli pergi menuju Pulau Tidung bersama kakak dan adiknya yang juga membawa anak. Jumlah rombongan Eli adalah tujuh orang.

Kakak Eli bernama Mila Hanifah, sedangkan adiknya bernama Megantri yang membawa dua anaknya.

Hermawati menjelaskan, kejadian saat kapal yang akan membawanya ke Pulau Tidung terbakar. Saat itu, Eli hanya mendapat satu pelampung dan dia berikan pelampung itu ke anaknya, Elsa.

"jadi Elsa nyebur duluan ke laut, setelah itu ibunya, kemudian di laut mereka berdua sempat pegangan tangan juga dan Elsa nangis menjerit, terus katanya Eli udah kelihatan lemas dan akhirnya tenggelam," papar Marawati yang diceritakan oleh Mila.

(Baca: Jackson Tewas Tenggelam Setelah Berikan Pelampung kepada Ibu Hamil Korban Kebakaran Zahro Express)

Marawati menuturkan, kakak dan adik Eli terpisah setelah menyelamatkan diri dari insiden itu.

"Kakak sama adik Eli masih bareng di atas kapal, tapi ketikanyebur ke laut mereka terpisah," ujarnya.

Dari tujuh jiwa tersebut hanya Eli yang tidak selamat.