Friday, December 30, 2016

Tangkap Bupati Klaten, Duit Diduga Setoran Promosi PNS Disita

KPK menyita uang dari operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Klaten, Jawa Tengah, Sri Hartini. Uang ini diduga setoran dari para PNS terkait promosi jabatan.

"Ada satu calon pejabat ditemukan Rp 75 juta, tapi ada beberapa (kumpulan uang), cuma jumlah uangnya belum tahu persis," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat dihubungi detikcom, Jumat (30/12/2016).

Duit diduga setoran terkait promosi atau mutasi jabatan ini menurut Alex tidak diserahkan langsung ke Sri Hartini. Diduga ada seseorang yang menjadi perantara pengumpulan uang untuk diberikan ke Sri Hartini.

"Ada pengepulnya, ada perantara jadi nggak diberikan langsung ke bupati," imbuh Alex.

Selain Bupati Klaten, sejumlah orang diamankan. Rumah dinas Sri Hartini juga digeledah tim KPK. 

"Yang jelas ada pemberi, penerima dan perantara," sebut Alex ditanya jumlah orang yang ditangkap tim KPK. 

 KPK menangkap Bupati Klaten Sri Hartini terkait dugaan penerimaan suap. Tim Satgas KPK langsung menggeledah rumah dinas Sri Hartini di Jl Pemuda, Klaten Tengah.

"Benar ditangkap Bupati Klaten inisial SH," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata saat dihubungi detikcom, Jumat (30/12/2016).

Menurut Alex, ikut ditangkap sejumlah orang yang terkait dengan dugaan pemberian uang kepada Sri Hartini. Sri Hartini kemudian dibawa ke Jakarta untuk diperiksa dan ditentukan statusnya dalam waktu 1x24 jam.

"Yang jelas ada penggeledahan di rumah dinas. Akan dilakukan pemeriksaan terhadap mereka yang tertangkap tangan," sebut Alex.

Tinjau Korban Banjir Bandang di Bima, Kapolri Serahkan Bantuan

KOMPAS.com/SyarifudinKapolri Jenderal Tito Karnavian saat memberikan bantuan secara simbolis kepada Wali Kota Bima, H Qurais H Abidin untuk korban yang terdampak bencana banjir, Kamis (30/12/2016)


Bantuan logistik untuk korban banjir bandang di Bima terus mengalir. Kali ini, giliran Kapolri Jenderal Tito Karnavianmemberikan bantuan kemanusian untuk warga Bima.

Kapolri bersama rombongan tiba di bandara Muhammad Sultan Salahuddin, Jumat (30/12/2016), sekitar pukul 10.00 Wita.
Kapolri yang didampingi Kapolda NTB Brigadir Jenderal Umar Septono kemudian menuju kantor Pemerintah Kota Bima.
Di posko utama penanganan banjir itu, Kapolri menyerahkan bantuan logistik sebanyak tiga truk untuk kebutuhan para korban banjir bandang.
Bantuan diserahkan secara simbolis kepada Wali Kota Bima Qurais H Abidin untuk korban bencana. Bantuan itu berupa mie instan 500 dus, air mineral 1.900 dus, beras 18 ton, dan kain sarung 2.000 lembar.
"Kami juga sekaligus menyampaikan turut berduka terhadap warga Bima yang terkena bencana," kata Tito.
Dia mengatakan, sejak awal pihak kepolisian dan unsur lainya seperti TNI, BNPB, serta pemerintah daerah telah bekerja keras untuk membantu korban banjir.
Tito bersyukur tidak ada korban jiwa dalam bencana banjir yang menerjang 5 kecamatan di kawasan Kota Bima itu.
"Anggota harus tetap siaga dan giat melakukan pemulihan sampai kondisi Bima dinyatakan aman," ujar Tito.
Kapolri kemudian meninjau Mapolek Rasanae Barat yang terendam banjir. Dia juga meninjau pelayanan kesehatan di Posko kesehatan Polri di Terminal Dara.

Usai Dihadang, Ahok Dihampiri Warga yang Dukung Kedatangannya

Seusai berdebat dengan pria yang mengaku bernama Herianudin dan menyebut dirinya sebagai Ketua Front Pembela Islam (FPI) Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (30/12/2016), calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok didatangi seorang pria paruh baya.

Pria itu mengaku sebagai warga RT 12/02 dan mendukung kedatanganAhok di wilayahnya, di Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Herianudin sebelumnya menyebut bahwa warga menolak kedatangan Ahokdi Jatipadang.
"Enggak, saya mendukung. Saya warga RT 12 juga, saya mendukung, Pak," kata pria berbaju kuning itu kepada Ahok.
"Nah makanya, kenapa saya enggak boleh datang," kata Ahok sambil menyalami bapak itu dan menengok ke arah Herianudin.
Sementara itu, di belakang Ahok, Herianudin masih tidak terima dengan kedatangan Ahok. Soalnya, kata Herianudin, rencana kedatangan Ahoktidak dikoordinasikan dengan pihak RT/RW setempat.
Selain pria yang berbaju kuning itu, seorang ibu berambut pendek juga mendukung kedatangan Ahok.
"Orang kami mendukung, ngapain usil? Jangan sok munafik jadi orang," seru ibu tersebut ke arah Herianudin.
Dia mengaku mengenal Herianudin yang juga seorang ustadz dan anggota organisasi masyarakat. Ibu itu mengatakan, dalam kegiatan sehari-hari, Herianudin tidak terlalu membaur dan dekat dengan warga.
Riah, warga RT 05/02 mengatakan, seharusnya warga tidak boleh menolak kedatangan orang lain yang tengah bertamu atau berkunjung.
"Namanya orang berkunjung, ya enggak boleh ditolak dong harusnya," kata Riah.
Riah mengapresiasi kinerja Ahok selama memimpin Jakarta. Menurut Riah, lingkungan tempat tinggalnya semakin bersih berkat program Pekerja Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).

Ahok di Daerah Rawan Banjir: Saya Tak Menggusur Kecuali Terpaksa

Ahok di Daerah Rawan Banjir: Saya Tak Menggusur Kecuali TerpaksaAhok saat blusukan di Jati Padang

Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melakukan peninjauan daerah rawan banjir di Jati Padang, Jakarta Selatan. Ahok berdialog dengan warga mengenai banjir di daerah tersebut.

"Di Jakarta dulu ada 2.000 titik banjir. Sekarang sudah berkurang hingga 400. Ini akan kita lanjutkan," ujar Ahok kepada warga di jalan Ketapang, Jati Padang, Jakarta Selatan, Jumat (30/12/2016).

"Kalau permasalahan di sini, limpahan dari Depok, mirip Kalisari. Kalau bawah enggak bisa masuk, kita mau potong dari atas, kita bikin sodetan," sambungnya

Ahok mengatakan akan berusaha membeli tanah kosong di daerah tersebut untuk dibuatkan menjadi waduk. Sehingga dapat mengurangi banjir.

"Bisa buat waduk tanah kosong ini. Kalau tanah bapak sertifikat semua serahkan ke kami akan langsung kami beli tanpa perantara," janji Ahok pada warga saat melihat tanah kosong.

Ahok sendiri menampik bila dirinya akan menggusur daerah tersebut. Ia berjanji hanya akan menata daerah tersebut agar tidak banjir.

"Prinsipnya kita nggak gusur, kecuali terpaksa. Kita lihat dulu bantaran sungainya. Kalau mereka warga asli, dapat tinggal rusun. Lebih sehat, naik bus gratis," tuturnya. 
(fdu/imk)

'Mesra' dengan Anies, Agus: Kami Sama-sama Penantang Petahana

Dalam dua hari berturut-turut, dua calon Gubernur DKI Jakarta, yaitu Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan, bertemu di satu panggung dalam acara Maulid Nabi. Agus mengatakan ada persamaan dari keduanya, yaitu penantang calon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). 

Setelah bertemu saat peringatan Maulid Nabi di Kwitang, Jakarta Pusat, pada Kamis (29/12/2016), Anies dan Agus bertemu kembali dalam acara Salat Subuh Gabungan se-Jabodetabek. Agus memakai baju muslim, sedangkan Anies mengenakan baju putih. Keduanya duduk di satu panggung dan ada pula Menag Lukman Hakim Saifuddin. 

Soal 'kemesraan' mereka berdua, Agus menjelaskan bahwa dia dan Anies tak pernah tak akrab. Hubungan mereka baik-baik saja. 

"Kami nggak pernah tidak akrab, saya tidak pernah merasa tidak akrab. Jadi baik-baik saja," ujar Agus di Krukut, Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (30/12/2016).

Baca Juga: Bertemu di Acara Maulid, Anies Cipika-cipiki dengan Agus Yudhoyono

Saat bertemu, Agus mengaku mengobrol dengan Anies. Namun tak banyak yang diobrolkan keduanya.

"(Ngobrol) tak banyak. Bertanya-tanya biasa, hari ini ke mana saja dan sebagainya. Intinya kami, sama-sama berjuang, berkompetisi dengan cara baik. Tentunya kami ingin, sekali lagi, bagi saya sama Mas Anies dan Bang Sandi kan posisinya sama, bisa dikatakan sebagai challenger, penantang dari petahana," ujar Agus.

Sapa Warga Pendatang di Jati Padang, Ahok: Jakarta Tak Tertutup

 Calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjhaja Purnama (Ahok) pagi ini berkampanye di Jati Padang, Jakarta Selatan. Ahok sempat bertemu dengan warga pendatang yang berprofesi sebagai pemulung dan meminta mereka memperhatikan anak mereka.

"Bu asalnya dari mana? Ini anaknya harus divaksin ya, ke puskesmas," ujar Ahok di Jalan Ketapang, Jati Padang, Jakarta Selatan, Jumat (30/12/2016).

Warga bernama Sri (32), yang berasal dari Cikarang, itu mengatakan akan siap mematuhi peraturan di Jakarta. Ia mengatakan hanya menyewa tempat mengontrak untuk bekerja sebagai pemulung.

"Saya di sini mengontrak, Pak. Rp 600 ribu sebulan," katanya.

Ahok pun menegaskan semua warga boleh datang ke Jakarta namun harus memiliki pekerjaan yang tetap. Ia ingin tidak ada warga yang telantar di Jakarta.

"Yang pertama, Jakarta tidak tertutup, kawasan yang kumuh ini saya yangngecek makanya Ini saya cari bosnya nggak ada," ucap Ahok

"Nggak masalah yang penting dia punya tempat tinggal, anak sekolah. Kita nggak mau karena orang tuanya, anak nggak divaksin nggak sekolah," sambungnya.

Ahok menegaskan, bila warga tersebut memiliki KTP Jakarta, ia pasti akan mendapatkan fasilitas di rusun.

"Kalau mereka warga asli, dapat tinggal di rusun, lebih sehat, naik bus gratis enggak bayar, cuma 150 ribu per bulannya," katanya.