Tuesday, January 7, 2014

Jokowi Akui Izinkan Ahok Naik Mobil Dinas

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tidak menyalahkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang tidak naik angkutan umum saat one day no car diberlakukan. Menurutnya, dia yang mengizinkan Basuki memakai mobil dinas.

Jokowi mengaku Basuki telah meminta izin kepadanya untuk tetap memakai mobil dinasnya pada saat PNS DKI lainnya diinstruksikan mengendarai kendaraan umum. Pada Jumat lalu, Basuki harus bertemu fraksi-fraksi di DPRD DKI Jakarta untuk membahas RAPBD DKI 2014.

Pertemuan itu, kata Jokowi, berlangsung pada pukul 07.30, Jumat (3/1/2014) lalu. Hal itu mendesak karena RABPD DKI hingga saat ini belum juga disahkan oleh DPRD DKI menjadi APBD.

"Pak Ahok sudah izin sama saya ketemu fraksi. Kan pagi jadwal ketemunya. Jadi, ada alasannya, enggak main-main," ujar Jokowi di kantor Balaikota, Jakarta Pusat, Selasa (7/1/2014). 

Kedua, Jokowi maklum lantaran Instruksi Gubernur tersebut baru awal-awal. Oleh sebab itu, butuh penyesuaian dari para pejabat. Dia pun yakin paling tidak tiga atau empat kali baru Ingub itu bisa dilaksanakan dengan tertib tanpa ada satu pun yang melanggar. 

Sebelumnya, Basuki juga mengatakan bahwa dia sudah mendapat izin dari Jokowi untuk tetap menggunakan kendaraan dinasnya. Dia juga menegaskan bahwa dirinya bukan PNS DKI sehingga tidak termasuk dalam Ingub tersebut.


Sorak-sorai "Capres" Iringi Jokowi di Pasar Kampung Makasar

JAKARTA, KOMPAS.com — Sorak-sorai warga mendukung Joko Widodo menjadi presiden bergelora saat Gubernur DKI Jakarta tersebut blusukan ke Pasar Kampung Makasar, Jakarta Timur, Selasa (7/1/2014) siang. Jokowi hanya tersenyum mendengarnya.
Jokowi datang ke pasar tradisional itu sekitar pukul 12.00 WIB. Penghuni pasar tidak menyadari akan kedatangan Gubernur, yang mengenakan kemeja putih lengan panjang. Penghuni pasar baru sadar setelah Jokowi mendapat sorotan kamera para wartawan. "Eh... Pak Jokowi, Pak capres," ujar salah satu pedagang pasar.
Jokowi tampak tidak menggubris teriakan tersebut. Ia berjalan meninjau rehabilitasi lapak-lapak pedagang di bagian belakang pasar. Setelah sekitar 10 menit berada di sana, Jokowi kemudian bertolak dari pasar. Teriakan capres pun tak berhenti.
"Pak, jadi presiden aja, Pak. Kita dukung," ujar salah satu ibu-ibu. "Iya, Pak, biar rumah sakit seluruh Indonesia gratis," timpal salah satu bapak-bapak di sampingnya.
Jokowi hanya tersenyum mendengar teriakan tersebut. Ia hanya menyalami warga dan mempersilakan warga berfoto bersama mereka satu per satu. Situasi pasar saat itu pun menjadi ramai.
Soal rehabilitasi pasar, Jokowi mengatakan bahwa pasar itu dapat digunakan mulai akhir Januari 2014. Pedagang sayur-mayur direlokasi di depan pasar tersebut selama bangunan pasar diperbaiki. Mereka telah didata dan seluruhnya akan menempati lapak baru.
Menurut Jokowi, rehabilitasi pasar merupakan dasar pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan. "Infrastrukturnyadibenerin dulu. Kedua manajemen, dengan sumber daya manusianya. Ketiga, baru kita tingkatkan kualitas produknya, itu urutannya," ujarnya.
Zakaria (58), salah satu pedagang sayuran yang telah berjualan di sana sejak enam tahun lalu, mengapresiasi kerja cepat Jokowi. Menurutnya, proses rehabilitasi pasar sangat cepat, yakni dua bulan saja. Hal itu menyebabkan pedagang tak berlama-lama berjualan di tempat relokasi. "Semuanya sudah dapat tempat,alhamdulillah. Dagang di tempat baru ini pasti banyak warga yang berminat," ujarnya.

Basuki: 30 Tahun Lurah Minta Sumbangan demi Kesenangan

Kompas.com/Kurnia Sari Aziza

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah mengevaluasi kinerja camat dan lurah pascalelang jabatan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, ia masih terus melakukan pendekatan dengan lurah dan camat demi mengetahui kinerja mereka, misalnya dengan mengundang makan siang.
"Karena sudah paradigma 30 tahun, lurah-lurah ini minta sumbangan, tilap uang dari mana-mana demi kesenangan," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (7/1/2014).
Basuki menyebutkan, sudah berpuluh tahun lurah meminta sumbangan ke warga demi membuat banyak acara. Tak jarang mereka juga meminta sumbangan kepada ibu-ibu PKK. Melalui acara tersebut, namanya akan semakin naik dan berharap jabatannya akan dipromosikan. Padahal, menurut Basuki, segala macam acara yang diselenggarakan itu tidak akan memengaruhi penilaian promosi jabatan.
Paradigma itulah yang ingin diubah oleh Basuki bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Pelayanan terhadap masyarakat menjadi aspek penilaian tertinggi. Apabila di wilayah tersebut sudah tidak ada lagi sampah yang berserakan, warga yang telantar sakit di rumah, maupun anak-anak putus sekolah, bukan tidak mungkin lurah atau camat tersebut akan dipromosikan.
"Sekarang yang paling penting, masyarakat terlayani karena hasil tes lelang jabatan kan juga cuma 20-30 persen yang bagus," kata Basuki.
Basuki mengklaim 90 persen lurah-camat saat ini sudah memenuhi kebutuhan yang diharapkan.  Satu hal yang diinginkan Jokowi adalah sebuah kelurahan dengan konsep bank. Dengan konsep ini, warga dapat dengan mudah mengurus segala administrasi tanpa proses rumit. Selain itu, PNS yang ditempatkan sebagai costumer service haruslah PNS kelurahan yang memiliki sifat ramah kepada warga. Tak lupa, disediakan permen dan air mineral untuk warga kala menunggu administrasi.
"Kita akan ubah melalui PTSP (pelayanan terpadu satu pintu). Kelurahan dan kecamatan dulu yang seperti bank, baru seluruh kantor dinas yang ada seperti bank," kata Basuki.

Jokowi Berikan Bantuan untuk Ibu yang Melahirkan di Jembatan "Busway"

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memberikan bantuan kepada Mutia Rahmawati (32), ibu yang melahirkan di jembatan penyeberangan selter transjakarta Kebon Pala, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (5/1/2014). Pemberian bantuan itu dilakukan Jokowi di Puskesmas Jatinegara, Selasa (7/1/2014) siang.
Jokowi sempat berselisih waktu dengan Mutia, yang telah pergi ke Dinas Sosial Jakarta. Begitu Jokowi datang, salah satu petugas puskesmas pun menelepon Mutia dan menyuruhnya kembali ke puskesmas.
Jokowi dan Mutia akhirnya bertemu di ruang tunggu puskesmas. Disorot belasan kamera wartawan serta pengunjung puskesmas, Jokowi memberi bantuan berupa amplop tebal warna putih kepada Mutia. "Terima kasih, Pak," ujar Mutia.
Saat itu, Mutia datang bersama keempat anaknya, termasuk bayi perempuan yang dilahirkannya di jembatan. Melihat anak-anak Mutia, Jokowi menepuk kepala mereka sambil memberikan pesan bahwa lebih baik Mutia memiliki empat anak saja. "Ini anaknya semua? Cukup ya," kata dia.
Kepada wartawan, wanita yang ditinggal meninggal suaminya itu menceritakan proses persalinan pada usia kandungan 6 bulan tersebut. Semula, wanita asal Kediri, Jawa Timur, tersebut hendak pergi ke rumah ayahnya di Bekasi. Namun, sesampainya di selter transjakarta Kebon Pala, dia merasakan kontraksi di perutnya.
"Akhirnya saya bersalin di situ sendirian. Ada mungkin setengah jam proses seluruhnya," ujarnya.
Bayi berjenis kelamin perempuan tersebut hingga hari kedua kelahirannya belum diberi nama. Ia masih bingung memberi nama kepada bayinya tersebut. Ia berharap bayinya dapat tumbuh dengan baik dan berguna bagi masyarakat umum.

Jokowi Gelar Festival, Pendapatan DKI dari Pariwisata Rp 3 Triliun

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah festival yang digelar Pemprov DKI Jakarta sepanjang pemerintahan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama menyumbang pendapatan asli daerah untuk sektor pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budhiman mengatakan, pendapatan meningkat dari Rp 2,6 triliun pada 2012 menjadi Rp 3,103 triliun pada 2013.

"Dari pajak restoran, hiburan, hotel, dan retribusi-retribusi mencapai Rp 3,103 triliun. Jumlah ini meningkat 16 persen dibandingkan 2012 sebesar Rp 2,6 triliun," kata Arie kepada wartawan, Senin (6/1/2014). 

Peningkatan PAD itu disebabkan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara yang semakin meningkat sepanjang 2013. Tercatat 31.646.700 wisatawan domestik mengunjungi Jakarta dari seluruh Indonesia. Jumlah ini meningkat 9,12 persen dibandingkan tahun 2012 sebanyak 28,8 juta orang. 

Sementara wisatawan mancanegara mencapai 2,293 juta orang. Jumlah itu meningkat sekitar 7,8 persen dibandingkan tahun 2012, yang hanya sekitar 2.125.513 wisatawan. Berdasarkan data, wisatawan mancanegara yang paling sering mengunjungi Jakarta ialah wisatawan dari Malaysia, China, Jepang, Singapura, Arab Saudi, Korea Selatan, Amerika Serikat, India, Australia, dan Taiwan. 

Tak hanya itu, pertumbuhan industri pariwisata di Ibu Kota juga terus meningkat, dari 8.843 bisnis pada 2012 menjadi 10.172 unit bisnis pada 2013. Jumlah itu meningkat sekitar 15,03 persen. 

Indikator lainnya adalah jumlah penyelenggaran event budaya di DKI Jakarta. Apabila pada tahun 2012 hanya ada 147 kegiatan, pada tahun 2013 melonjak menjadi 246 kegiatan. 

"Jika dipertahankan, atau ditambah terus, saya yakin korelasi terhadap peningkatan jumlah wisatawan akan berbanding lurus," kata Arie. 

Melalui banyaknya acara kebudayaan itu, lanjut dia, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang dipimpinnya telah menyerap anggaran hingga 93 persen. Sepanjang tahun 2013 ini, setidaknya 97 festival dari lokal hingga berskala internasional telah diselenggarakan. 

Festival budaya itu antara lain Enjoy Jakarta International Folklore Festival (EJIFF), Kampung Art Festival, Pesta Seni Pelajar, Festival Seni Budaya Betawi, Festival Keanekaragaman Budaya Monas, Jakarta Keroncong Festival, Festival Seni Mitra Praja Utama, Jakarta Bienalle, Kampung Betawi di Kota Tua, JIFFEST, Jak Karnaval, Festival Kuliner Jakarta, Jakarta Festival Museum Day, Monas Jakarta Karnaval, World Royal Heritage, Malam Muda Mudi, dan Jakarta International Performing Arts.

Basuki Klaim DPRD Setujui Pengadaan 4.000 Bus

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengklaim Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta telah menyetujui usulan pengadaan 3.000 bus sedang dan 1.000 bus transjakarta. "Dewan sudah setuju, sudah oke," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Selasa (7/1/2014).
Usulan tersebut telah dimasukkan ke dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) DKI 2014. Kendati demikian, ia belum mengetahui besar anggaran dan jumlah yang telah disetujui DPRD DKI Jakarta. Pengadaan bus itu dalam upaya mengurangi kemacetan Ibu Kota. Apabila DPRD tidak mau menyetujui usulan itu, dengan nada sedikit mengancam, Basuki tidak mau lagi membahas APBD. "Toh kita bisa gunakan anggaran tahun ini," ujar Basuki.
Pengadaan bus tersebut tidak akan dilakukan melalui proses lelang, tetapi melalui e-catalog. Penggunaan katalog elektronik ini lebih menghemat waktu dan anggaran.
Anggota Komisi B Bidang Transportasi DPRD DKI Jakarta, Taufiq Azhar, mengatakan, rencana pembelian 4.000 bus oleh Pemprov DKI terlalu cepat. Menurut dia, pengadaaan ribuan bus dapat dilakukan secara bertahap dengan diiringi perbaikan sarana dan prasarana pendukung, seperti jalan, halte, dan jembatan penyeberangan orang.
Taufiq mengatakan, Pemprov DKI Jakarta harus dapat melihat kemampuan sarana dan prasarana lalu lintas di Jakarta untuk menampung ribuan bus tersebut. Jika tidak, kata dia, maka dapat mengakibatkan ribuan bus tersebut tidak beroperasi.
"Coba bayangkan 4.000 bus beroperasi, tapi sarana dan prasarana tidak dirapikan. Yang ada bus-bus itu cuma nongkrongdan mubazir jadinya," kata politikus Partai Golkar tersebut.
Ia menyarankan agar Pemprov DKI membeli bus secara bertahap, misalnya 200 unit bus setiap enam bulan. Dengan demikian, pengadaan ribuan bus itu dapat diselesaikan dalam jangka waktu menengah, bukan dengan jangka waktu singkat dan terkesan buru-buru.